Penyebab Terjadinya Kenaikan Harga Cabe

kenaikan cabe

Kenaikan harga cabe terus berlangsung, hal ini disebabkan karena pengelolaan yang salah, sehingga membuat harga cabe mengalami kenaikan, seperti yang dahinp.com kutip dari liputan6 berikut.
Harga cabai rawit merah terus mengalami lonjakan dalam beberapa hari terakhir. Bahkan di wilayah Kalimantan, harga komoditas ini menembus angka Rp 200 ribu per kg. Harga cabai ini mengalahkan harga daging yang saat ini masih berada di kisaran Rp 120 ribu per kg.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, harga cabai yang sampai menyentuh level Rp 200 ribu per kg tersebut seharusnya tidak terjadi di Indonesia yang merupakan negara agraris. "Cabai itu menurut saya konyol, itu persoalan manajemen. Ini bentuk salah urus yang memuakkan untuk negara agraris seperti Indoensia," kata Enny saat berbincang dengan Liputan6.com, Minggu (8/1/2017).

Tingginya harga cabai ini tidak akan terjadi jika pemerintah jeli dalam mengatur manajemen penanaman cabai. Memang pemerintah tengah mengembangkan penanaman bahan pangan secara klasterisasi, hanya saja itu belum maksimal.

Enny mengaku, kebijakan klasterisasi itu harus didukung dengan tata kelola panen yang berkesinambungan. "Apa susahnya sih daerah A panennya di Januari, daerah B panennya di Februari, begitu seterusnya. Ini soal manajemen saja sebenarnya," tegas dia.

Selain itu, untuk memangkas distribusi bahan pangan, termasuk cabai, seharusnya pemerintah memberikan fasilitas pasca panennya. "Jadi petani itu tidak tergantung kepada pengepul-pengepul yang sebenarnya tidak berpihak ke petani itu sendiri," ujar Enny.‎

Sebelumnya pada 4 Januari 2017, harga cabai terus melonjak naik dalam beberapa hari ini. Bahkan di kota besar di Kalimantan, harga cabai sudah mencapai Rp 200 ribu per kg. Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional di Kota Samarinda, harga cabai yang ditawarkan penjual di los pasar berbeda-beda tetapi tidak jauh dari nilai Rp 200.000 per kilogram untuk masing-masing los dalam satu pasar.

Di Pasar Segiri Samarinda, misalnya, harga cabai tiung dijual Rp 200.000 per kg, cabai rawit Rp 120.000 per kg, cabai keriting Rp 45.000 per kg, dan cabai merah besar Rp 40.000 per kg.

Kemudian di Pasar Kedondong Samarinda harga cabai tiung Rp 200.000 per kg, cabai rawit Rp 70.000 per kg, cabai keriting Rp 40.000 per kg, dan cabai merah besar Rp 35.000 per kg.

Sedangkan di Pasar Sungai Dama Samarinda harganya relatif lebih murah untuk jenis cabai lain, sementara jenis cabai lainnya lebih mahal, yakni cabai tiung seharga Rp 150.000 per kg, cabai rawit Rp 80.000 per kg, cabai keriting Rp 60.000 per kg, dan cabai merah besar Rp 50.000 per kg.

Namun tingginya harga cabai tersebut dibantah oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman "Ini saya luruskan. Ada kadisnya tadi dan kita telpon langsung harganya itu Rp 40 ribu per kg. Itu sudah saya cek langsung. Bahkan kami mapping harga cabai," kata Amran di Menara Bidakara, Jakarta, Kamis (5/1/2017).

‎Meski begitu, Amran tidak menampik harga capai di beberapa wilayah Indonesia saat ini tengah mengalami kenaikan. Ini karena para petani menunda panen akibat curah hujan yang tinggi.

Untuk pasokan di Kalimantan, Sulawesi, Aceh dan beberapa di luar jawa, dipastikan Mentan tercukupi.‎ "Di tempat-tempat itu, di sentra-sentra produksi cabau, kalau di petani Rp 40 ribu per kg di pedagang Rp 50 ribu per kg, jadi bukan Rp 200 ribu per kg," tegas dia.
Blogger
Disqus

No comments